Isu perempuan Indonesia dibahas di Universitas Waseda Jepang

- Jurnalis

Jumat, 9 Februari 2024 - 03:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tokyo (Rumah Bicara) – Isu terkait perempuan yang marak ditemukan di Indonesia dibahas dalam seminar yang bertajuk “Islamic Feminism in Indonesia: Theories and Practices”di Sekolah Pascasarjana Studi Asia-Pasifik Universitas Waseda, Tokyo, Jepang, Kamis.

Diskusi itu menghadirkan dua pemateri dari Indonesia, yakni Dosen Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Dr. Nur Rofiah dan Direktur Program Rumah Kitab Nur Hayati Aida.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nur Rofiah menekankan pada upaya membangun perspektif keadilan perempuan hakiki di mana perempuan dipandang sebagai subjek penuh dan manusia utuh sesuai dengan yang Islam ajarkan.

“Bagaimana cara memperlakukannya sesuai perspektif tadi. Kearifan sosial mesti direfleksikan kembali apakah betul-betul berpihak pada perempuan atau tidak, ada ketidakadilan pada gender atau tidak,” katanya.

Dia mengupas mulai dari kodrat perempuan, fatwa pemotongan dan pelukaan genitalia perempuan (P2GP) hingga poligami.

Menurut dia, seringkali perempuan tidak diperlakukan dengan baik hanya karena menjadi seorang perempuan, contohnya saat menstruasi dan sebagainya.

“Karena tidak dirasakan oleh laki-laki, jadi laki-laki itu tidak sensitif soal ini. Bahkan, perempuan yang mengalaminya pun belum tentu sensitif dan terkonstruksi untuk berpikir seperti laki-laki,” kata Nur Rofiah.

Dia mengibaratkan kesulitan itu seperti orang yang nondifabel membayangkan tantangan yang dihadapi kaum difabel. Dia menambahkan ketidakadilan terhadap perempuan masih terjadi di mana-mana.

“Cara pandang perempuan mempengaruhi sistem pengetahuan. Kalau di Jepang didominasi laki-laki ya berarti sistem pengetahuannya didominasi oleh laki-laki. Kalau begitu pengabaian kepada hal-hal perempuan juga bisa terjadi,” katanya.

Sementara itu, Direktur Program Rumah Kitab Nur Hayati Aida membahas isu pernikahan anak yang masih banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.

“Ini terjadi bukan hanya satu faktor dan ekonomi bukan lagi satu-satunya faktor yang mempengaruhi,” katanya.

Baca Juga :  Sekitar 20 tembakan diarahkan dari Lebanon ke Israel Utara

Dia juga menyoroti fenomena kawin kontrak atau nikah mutah yang tidak sesuai dengan mazhab yang dianut oleh Muslim Indonesia pada umumnya.

Dalam kesempatan yang sama, Profesor Ritsumeikan Asia Pacific University Iguchi Yufu mengaku pertama kalinya mempelajari feminisme dalam Islam, terutama di Indonesia.

“Saya suka bagaimana mengaitkannya dengan interpretasi Al Quran terkait perempuan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara lain,” kata Iguchi.

Dia berharap ke depannya perempuan lebih banyak lagi dilibatkan dalam pembuatan kebijakan dan saat ini gerakan itu sudah ada.

Baca juga: Keterlibatan perempuan sebagai ahli politik dalam pesta demokrasi

Baca juga: Komnas: Perjalanan politik perempuan Indonesia masih jadi PR panjang

Baca juga: Aktivis perempuan: Kekerasan berbasis gender meningkat selama pandemi

Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: M Razi Rahman
Copyright © Rumah Bicara 2024

Sumber : www.antaranews.com

Berita Terkait

AS selalu jadi biang keladi pendudukan Palestina
Australia berjibaku dengan kebakaran akibat suhu meningkat
China akan mulai babak baru “diplomasi panda”
Beijing kritik kunjungan anggota parlemen AS Mike Gallagher ke Taiwan
Jepang tambah kategori produk mesin dilarang ekspor ke Rusia
UA luncurkan kampanye genjot akses pendidikan anak perempuan di Afrika
BAZNAS-KBRI pasok kebutuhan dapur umum Palestina di perbatasan Rafah
China kirimkan bantuan bagi korban gempa Afghanistan saat musim dingin

Berita Terkait

Jumat, 23 Februari 2024 - 05:11 WIB

KemenKopUKM minta pelaku usaha utamakan mediasi dalam sengketa hukum

Jumat, 23 Februari 2024 - 03:09 WIB

Bantu jaga ketahanan pangan, warga diimbau tanam sayur metode vertikal

Jumat, 23 Februari 2024 - 02:08 WIB

Petani nenas Siak raih peluang baru dari pengolahan grade B dan C

Jumat, 23 Februari 2024 - 01:07 WIB

Proyeksi saham BSI tembus Rp2.700 per lembar

Jumat, 23 Februari 2024 - 00:05 WIB

Pakar UGM: Peluang ekspor rempah-rempah Indonesia masih menjanjikan

Kamis, 22 Februari 2024 - 23:03 WIB

Bapanas: Bantuan pangan beras guna kendalikan permintaan di masyarakat

Kamis, 22 Februari 2024 - 22:03 WIB

OIKN: Kota dapat mempengaruhi pencapaian SDGs secara signifikan

Kamis, 22 Februari 2024 - 21:01 WIB

Khofifah: Implementasi ilmu terapan atasi permasalahan petani garam

Berita Terbaru

DUNIA

AS selalu jadi biang keladi pendudukan Palestina

Jumat, 23 Feb 2024 - 05:00 WIB