BAKTI tengah timbang gunakan satelit GEO atau LEO untuk SATRIA-2

- Jurnalis

Rabu, 31 Januari 2024 - 05:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta (Rumah Bicara) – Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika tengah menimbang untuk menggunakan antara satelit GEO (Geostationary Earth Orbit) atau satelit LEO (Low Earth Orbit) untuk nantinya dijadikan sebagai Satelit Republik Indonesia-2 (SATRIA-2).

Kepala Divisi Infrastruktur Satelit BAKTI Kominfo Sri Sanggrama Aradea menyebutkan pertimbangan itu muncul melihat perkembangan adopsi satelit LEO yang dalam beberapa tahun terakhir meningkat secara global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami masih kerjakan teknisnya, saat ini kami masih menimang apakah akan terus menggunakan satelit GEO atau akan pakai konstelasi LEO,” kata pria yang akrab disapa Aradea itu di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, kedua jenis satelit yang dibedakan karena orbitnya itu memiliki keunggulan masing-masing yang tentunya berbeda satu sama lain.

Baca juga: BAKTI Kominfo pastikan kelanjutan SATRIA-2 dan Palapa Ring Integrasi

Adapun untuk satelit GEO diketahui jaraknya memang paling jauh karena harus berada di angkasa dengan jarak 36.000 kilometer dari bumi. Membuat persiapannya untuk beroperasi disiapkan dalam periode yang lebih panjang.

Meski begitu, pemeliharaan perangkat satelit GEO lebih mudah karena posisi orbitnya dan perangkatnya konsisten. 

Dari sisi keamanan hal itu juga memberikan keunggulan karena satelit ini hanya membutuhkan sedikit perangkat yang perlu dikelola membuat keamanannya lebih terjaga.

Sementara untuk satelit LEO, sebagai satelit yang paling dekat dengan bumi berjarak sekitar 500-1200 kilometer membawa keunggulan transmisi data menjadi lebih rendah sehingga dapat menawarkan kecepatan jaringan telekomunikasi yang lebih baik.

Akan tetapi satelit LEO membawa tantangan dari segi keamanan karena membutuhkan lebih dari satu perangkat bahkan puluhan untuk menyediakan jaringan telekomunikasinya.

Baca juga: Kemkominfo sebut Starlink belum izin buka layanan internet di RI

Baca Juga :  Trailer "Grand Theft Auto VI" catat 93 juta "view" selama 24 jam

Apabila mengadopsi satelit LEO, Aradea menyebutkan bahwa pengelola satelit harus transparan pada pemerintah Indonesia.

“LEO itu cakupannya global, artinya tidak bisa dikontrol semua karena terkait datanya juga ada yang namanya intersatelit, dan itu berpotensi ada pertukaran data antar satelit. Itu datanya jatuh ke mana tidak ada yang tahu. Itu permasalahan LEO, jadi kalau memang mau digunakan harus transparan dan adil (pengelolanya),” kata Aradea.

Meski demikian, SATRIA-2 dipastikan tetap akan hadir karena telah masuk perencanaan ke dalam Green Book Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Sebelumnya, SATRIA-2 diperkirakan akan membutuhkan investasi sebesar 884 juta dolar AS atau sekitar Rp13,7 triliun.

Pada awalnya satelit itu dirancang akan mengikuti pendahulunya yaitu SATRIA-1 yang mengadopsi satelit GEO.

Untuk SATRIA-2 kapasitas yang diharapkan bisa tersedia sebesar 300 Gbps, dengan mengadopsi teknologi twin sattelite yang membuatnya terdiri atas dua bagian yaitu SATRIA-2A dan SATRIA-2B.

Baca juga: Dubes Rosan: Peluncuran SATRIA-1 jadi sejarah baru telekomunikasi RI

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © Rumah Bicara 2024

Sumber : www.antaranews.com

Berita Terkait

PWI sebut “publisher right” dapat tingkatkan kualitas hidup awak media
Lenovo boyong laptop konsepnya dengan layar transparan di MWC 2024
OpenAI kenalkan Sora, kecerdasan buatan untuk ubah teks ke video
Samsung Galaxy Z Fold6 digadang bakal miliki kamera utama 200 MP
Fase pertama PLTS IKN beroperasi pada 29 Pebruari 2024
KPI-RRI-Kino Media bekerja sama untuk penuhi hak kelompok disabilitas
Xiaomi pastikan Redmi Note 13 meluncur di Indonesia akhir Februari
Neural Engine iPhone 16 dipadukan dengan fitur AI generatif iOS 18

Berita Terkait

Sabtu, 17 Februari 2024 - 09:26 WIB

Pemerintah targetkan 10 juta UMKM tersertifikasi halal pada Oktober 2024

Sabtu, 17 Februari 2024 - 07:22 WIB

Kaltim pacu produksi pisang untuk pasar internasional

Sabtu, 17 Februari 2024 - 06:21 WIB

Kemenkop UKM minta UMKM gunakan digitalisasi dongkrak daya saing

Sabtu, 17 Februari 2024 - 05:21 WIB

Menhub targetkan proving ground Bekasi “soft launching” September 2024

Sabtu, 17 Februari 2024 - 04:20 WIB

Soal tabrakan kereta Cicalengka, KNKT: Anomali sinyal terjadi sejak Agustus 2023

Sabtu, 17 Februari 2024 - 03:18 WIB

BlackVue luncurkan dash cam di IIMS 2024, sematkan teknologi AI

Sabtu, 17 Februari 2024 - 02:18 WIB

ASDP layani 45,6 juta penumpang selama 2023

Sabtu, 17 Februari 2024 - 01:15 WIB

Pastika: Internet masuk desa di Bali percepat pengembangan ekonomi

Berita Terbaru