Psikolog sarankan tunda pernikahan jika belum siap cegah “baby blues”

- Jurnalis

Senin, 29 Januari 2024 - 23:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta (Rumahbicara.com) –

Psikolog dari Ikatan Psikologi Klinis Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Naftalia Kusumawardhani menyarankan pasangan yang belum siap untuk menunda pernikahan demi mencegah baby blues atau depresi pascamelahirkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tunda pernikahan apabila usia calon pengantin masih terlalu muda, karena secara psikologis belum siap untuk menjadi orang tua. Ada banyak perubahan kehidupan setelah menjadi orang tua yang mengagetkan dan menyita perhatian orangtua baru,” kata Naftalia dalam diskusi yang diikuti dalam jaringan di Jakarta, Senin.

 

Baby blues atau postpartum distress syndrome adalah kondisi terganggunya suasana hati yang terjadi pascamelahirkan, dan dapat dialami sekitar 50-80 persen wanita yang melahirkan, khususnya kelahiran anak pertama, tetapi tidak menutup kemungkinan dialami pada kelahiran anak kedua dan seterusnya.

 

Gejala baby blues yang kerap terjadi yaitu mudah sedih dan menangis, sensitif, cemas, takut, tidak percaya diri, merasa kehabisan tenaga, tidak tertarik merawat bayi, merasa gagal, tidak berharga, tidak nyaman, bingung tanpa sebab, dan tidak sabar.

 

“Apabila gejala tersebut berlangsung selama dua pekan, maka ibu harus berani ambil keputusan untuk mencari bantuan ke psikolog. Pengalaman hidup hidup hidup melahirkan itu unik, tidak universal, maka sebaiknya ibu tetap berobat dan tidak terpengaruh anggapan orang yang memandang negatif. Justru ibu hebat-lah yang tahu cara antisipasinya,” ujarnya.

 

Menurutnya, baby blues dapat dialami karena perubahan kehidupan setelah menjadi orang tua tidak hanya tentang mengasuh anak, tetapi juga hubungan dengan anggota keluarga, mertua, dan ipar yang mengalami transisi.

 

Ia juga menjelaskan, ibu yang kelelahan dan memiliki beban dapat menyebabkan kurang optimalnya pengasuhan di masa emas anak yakni di 1.000 hari pertama kehidupan atau usia 0-2 tahun.

Baca Juga :  15 Rekomendasi Ide Resolusi Tahun Baru Terbaik

 

“Ibu yang terlalu capek dan memiliki beban tambahan dapat menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi bayi. Ibu stres, ASI tidak keluar, kelelahan sampai tidak sempat memperhatikan gizi dalam menu makanan bayi, akibatnya pengasuhan di 1.000 Hari Pertama Eksistensi kurang optimal,” paparnya.

 

Untuk itu, ia menekankan kepada para calon orang tua pentingnya memiliki pengetahuan tentang kehamilan hingga pascamelahirkan.

 

“Menambah wawasan ini akan membentuk kesiapan dan mengoptimalkan persiapan calon orang tua, serta mintalah dukungan keluarga. Persiapan dalam segala aspek juga perlu, tidak hanya finansial, tetapi juga secara fisik dan psikologis,” ujar dia.

 

Ia menambahkan, masa nifas (40 hari pascamelahirkan) merupakan periode kritis untuk ibu, karena itu adalah waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan secara fisik dan psikologis.
 

“Perlu diketahui para calon orang tua, apa saja yang terjadi di tiga periode penting selama nifas, yaitu pada hari pertama sampai hari ketiga, taking in, kemudian hari ketiga sampai ke-10, taking hold, sampai letting go di hari ke-10 hingga kurang lebih minggu keenam,” tuturnya.

Menurutnya, penting juga bagi orang sekitar untuk tidak menghakimi pilihan ibu dalam melahirkan, baik itu normal maupun operasi sesar.

 

“Penghakiman dari orang lain seperti anggapan ibu sejati adalah yang melahirkan secara normal, sedangkan operasi sesar dianggap ibu takut kesakitan, takut bentuk fisik berubah, atau terkesan hanya ingin proses yang mudah saja. Penghakiman itu dapat membuat ibu semakin terbebani,” ucap Naftalia.

 

Setelah melahirkan, kondisi fisik ibu mengalami perubahan. Rasa lelah luar biasa dirasakan ibu apalagi jika tanpa bantuan dari keluarga di sekitarnya, untuk itu penting memberi dukungan pada ibu pascamelahirkan.

Baca Juga :  Ganjar dukung gagasan anak muda lewat lari pagi 'Penguin SeliweRun'

“Ibu bahagia, maka bayi sehat, tidak ada ibu yang sempurna. Hanya ibu yang mau menjalani semua proses kehamilan hingga kelahiran,” imbuhnya.

Baca juga: BKKBN: 57 persen ibu alami “baby blues,” depresi pascamelahirkan

Baca juga: Penyebab “baby blues”: kurang dukungan dari orang sekitar

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Penyunting: Budi Suyanto
Copyright © Rumahbicara.com 2024

Asal : www.antaranews.com

Berita Terkait

Kemarin, Film Avatar hingga elektrifikasi buka peluang builder lokal
Kriminal kemarin, Polda panggil Firli hingga hukuman pengedar narkoba
Bawaslu RI sebut PSS di Paniai tunggu sinyal hijau dari pihak keamanan
Aliansi Advokat Indonesia: Pertahankan hasil pemilu sesuai mekanisme
Ten Hag akan lakukan segalanya demi bawa MU finis di empat besar
Imigrasi Batam deportasi buron asal Jepang
Temui Sri Sultan HB X selama dua jam, ini kata Menko Polhukam
Dubes Ukraina sebut masyarakat internasional bisa hentikan perang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Februari 2024 - 07:39 WIB

Pj Gubernur Jatim: Pembangunan pabrik smelter dongkrak perekonomian

Sabtu, 24 Februari 2024 - 05:37 WIB

Kemenkop UKM harap aturan UMKM wajib bersertifikasi halal ditunda

Sabtu, 24 Februari 2024 - 04:35 WIB

Era elektrifikasi peluang modifikator lokal berkarya

Sabtu, 24 Februari 2024 - 03:34 WIB

Israel membangun lebih dari 3.300 unit pemukiman di Tepi Barat

Sabtu, 24 Februari 2024 - 02:34 WIB

Menko Luhut bidik Pulau Samosir jadi destinasi wisata premium

Sabtu, 24 Februari 2024 - 01:33 WIB

Kemenkop UKM: Penegakan hukum impor pakaian bekas harus makin ketat

Sabtu, 24 Februari 2024 - 00:32 WIB

Pemerintah targetkan Prakerja diikuti 1,148 juta peserta tahun ini

Jumat, 23 Februari 2024 - 23:30 WIB

Bapanas: Bantuan pangan beras 10 kg di Sulut sasar 1.003 KPM

Berita Terbaru

BOLA

PSIS bermain seri 1-1 lawan Dewa United

Sabtu, 24 Feb 2024 - 07:41 WIB